Pengorganisasian Komunitas dan Peranan Pekerja Komunitas

Pendahuluan

Pola pengorganisasian warga komunitas dalam kerangka pengembangan masyarakat ada tiga, yaitu pengembangan komunitas local yang memberikan penekanan pada proses, dengan memandang komunitas sebagai ikatan tradisional yang dipimpin oleh kelompok kecil pemimpin-pemimpin konvensional dengan ciri ungkapan berupa ”Marilah kita bersama-sama membahas masalah ini”. Yang kedua adalah perencanaan social yang berorientasi kepada kategori tujuan dengan memberi penekanan pada tujuan yang berorientasi pada penyelesaian tugas dan denga ciri ungkapan berupa “Marilah kita kumpulkan fakta dan lakukan langkah-langkah logis berikutnya”. Dan pola yang ketiga adalah aksi social, yaitu pendekatan yang mengarah pada task goal dan process goal yang menunjukkan komunitas sebagai hirarki dari privilege dan kekuasaan dengan ciri ungkapan berupa “ Mari kita mengorganisir diri agar dapat melawan para penekan kita. Peran kerja komunitas memiliki peran penting dalam pengembangan masyarakat,ada empat kategori peran pekerja komunitas dalam pengembangan masyarakat, yaitu facilitative roles, educational roles, representational roles, technical roles.

Pembahasan

            Dalam bacaan tersebut, pola pengorganisasiannya dapat mengacu kepada dua pola, yang pertama adalah pola aksi social, yaitu adanya penggunaan generator diesel untuk penyediaan listrik di desa oleh beberapa masyarakat Salebba yang mampu, adanya turun tangan dari Sekcam yang membantu masyarakat untuk melaksanakan dan melanjutkan pembangunan PLTA yang sangat bermasnfaat dan sesuai dengan kemampuan sumberdaya yang ada di desa Salebba.

Adanya peranan dari kepala desa dan LSM yang juga membantu pelaksanaan dan pengadaan PLTA untuk pemenuhan listrik masyarakat desa Salebba dengan melakukan sosialisasi dan rembug dengan masyarakat untuk membahas perencanaan dan pembangunan PLTA. LSM dan LP2M menjadi fasilitas rembug desa untuk membahas pengelolaan dan aturan penggunaan listrik yang disetujui denga besarnya jumlah iuran bulanan yang disesuaikan denan biaya pemakainan.

Selain sebagai aksi social, kita juga dapat menemukan bahwa, bacaan PLTA mini ini termasuk dalam Pola Komunitas Lokal. Hal ini dapat terlihat dari dalam proses perencanaan, pembangunan, pembuatan hingga pemakaian PLTA melibatkan seluruh unsur masyarakat. Awalnya masyarakat memiliki kesadaran akan kebutuhan listrik yang semakin meningkat. Warga telah meminta pada PLN agar memasang jaringan listrik di desa Salebba berulang kali. Namun PLN berdalih bahwa keuntungan yang didapatkan sangat kecil. Dengan keadaan ini, warga akhirnya bergotong royong memikirkan sebuah jalan keluar dari permasalahan mereka.

 

Dalam memecahkan masalah warga desa Salebba yang memiliki kemauan dan semangat untuk mengakses listirik dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dengan melibatkan peran warga dalam pembangunan listrik PLTA secara bergotong-royong dan dalam pelaksanaan pembangunan lisrik PLTA sering dilakukan “rembug” antara kepala desa,masyarakat, tokoh masyarakat dan sekcam. Bukti tersebut dapat membuktikan bahwa bacaan “PLTA Mini Bangkitkan Desa Terpencil” temasuk dalam pola komunitas lokal.

Peran pekerja komunitas, berdasarkan bacaan termasuk kedalam facilitative  roles, karena  adanya Sekcam sebagai falitator untuk mengadakan listrik di desa tersebut menggunakan tenaga PLTA turbin. Awalnya Sekcam mendengar aspirasi dari masyarakat. Didukung dengan adanya LSM dan LP2M sebagai fasilitas untuk rembug. Selain itu juga ada peran kepala desa mansyur hamid untuk membangun kepercayaan diri dalam membangun PLTA kembali walau sebelumnya gagal. Kepala desa melakukan studi banding dan mendatangkan teknisi untuk memepelajari kesalahan dalam membangun PLTA pertama karena tidak dapat digunakan dengan maksimal (gagal).

Selaian sebagai facilitative roles, pada bacaan kita juga menemukan bahwa peran komunitas juga dapat termasuk Technical Role karena Kepala desa mendatangkan teknisi untuk mempelajari berada dimana kesalahan PLTA sehingga tidak bisa bekerja dengan maksimal atau gagal. Ternyata faktor lokasi yang kurang air. Lalu setelah dibangun kembali dan sukses uji coba. Teknisi melakukan pelatihan dalam pengelolaan PLTA turbin dengan bantuan LP2M. Selain itu melunasi dana pembangunan PLTA turbin.

Untuk melihat perbedaan antara pola pengorganisasian dan peran pekerja komunitas, maka kita dapat meihat matriks berikut :Perbandingan Pola Pengorganisasian Komunitas dan Peran Pekerja Komunitas dikaitkan dengan sustainability program pengembangan masyarakat. Perbandingan dengan permbangunan pemerintah yang cenderung production centered development.

 

Variabel Perbandingan

Bacaan

PLTA Mini

Pola Pengorganisasian Komunitas

Pola Komunitas Lokal.

Dalam bacaan ini proses pembuatan PLTA mini menekankan pada pengintegrasian dan pengembangan komunitas. Warga desa Salebba dilibatkan secara langsung dari proses perencanaan, pembuatan, pembangunan, hingga proses pemeliharaan PLTA mini ini. Dapat dikatakan bahwa program ini termasuk ke dalam people centered development. Meskipun pada pembangunan PLTA mini pertama gagal, namun karena terdapat inisiatif dari Kepala Desa untuk memulainya lagi.

Program ini termasuk ke dalam program yang sustainability. Hal ini selain karena warga terlibat penuh dalam PLTA mini, warga pun merasakan dampak positif dari keberadaan PLTA mini ini, seperti peningkatan ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan transportasi.

 

Aksi Sosial

Dalam bacaan ini proses pembangunan PLTA mini ini dibantu dengan peranan dari Sekcam, Kepala Dusun, Kepala Desa, LSM, dan LP2M yang membantu masyarakat desa dalam pembangunan dan pembahasan teknis dalam proses pembangunan hingga penggunaa yang sustainable kepada masyarakat.

Peran Pekerja Komunitas

Facilitative Roles.

Peran pekerja komunitas (LP2M) yaitu menfasilitasi rembug warga yang melahirkan aturan main dan teknis pengelolaan PLTA yang disepakati warga. LP2M membantu anggota komunitas agar berpartisipasi dalam program pengembangan PLTA, bersikap netral dalam menumbuhkan kepercayaan masyarakat, serta LP2M juga mampu memberikan fasilitas kepada para anggota komunitas.

Peran LP2M, tokoh masyarakat, dan warga Salebba membuat kegiatan ini tetap berlanjut sampai sekarang (sustainability). Kegiatan ini pun beroientasi pada warga Salebba agar merka dapat lebih produktif dalam menjalankan kegiatan dan pekerjaan mereka.

Technical Roles

Kepala Desa membantu masyarakat dalam pembangunan PLTA mini dengan bantuan LSM da para teknisi yang mampu menjadi mediator atau fasilitator bagi masyarakat desa Salebba untuk dapat menggunakan dan merawat PLTA mini yang sangat membantu masyarakat desa tersebut.

 

                                                                                                                                

Kesimpulan

Berdasarkan bacaan di Desa Salebba  mengacu kepada pola pengorganisasian warga komunitas pola aksi social dan pola komunitas local karena pada bacaan itu menunjukkan bahwa pengembangan masyarakat berdasarkan dari keputusan warga itu sendiri dan dengan bantuan LMS, serta peran pekerja komunitas berdasarkan facilitative roles yang memfasilitasi rembug warga yang melahirkan aturan main dan teknik pengelolaan PLTA yang disepakati oleh warga serta sebagai technical roles

Daftar Pustaka

Sidik, Muhammad Alim. 2005. PLTA Mini Bangkitkan Desa Terpencil: Keberhasilan Desa Salebba, Sulawesi Selatan, Atasi Keterbatasan PLN. CESS dan JPIP: Surabaya.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s